Diskusi Santai ala Pemuda Muktisari

Suasana diskusi Senin (31/3) malam
Suasana diskusi Senin (31/3) malam

Muktisari, Gandrungmangu – Beberapa orang pemuda nampak sedang duduk-duduk santai di teras masjid Jami’ Al-Istimror, Dusun Bendagede, Desa Muktisari, Gandrungmangu, Cilacap pada Senin (31/3) malam. Mereka nampak serius namun santai saat mengikuti diskusi rutinan yang digelar setiap malam Selasa ini.

Miftahul Jannan (28), Seorang pemateri dalam diskusi tersebut mengungkapkan bahwa forum ini sebelumnya sudah terbentuk namun dengan personil yang berbeda. Kemudian Juragan Haris mengusulkan untuk dibentuk klub untuk pembelajaran Islam. “Kegiatan ini sudah berjalan lebih dari 3 bulan, dan belum pernah libur.” katanya.

Pada awalnya, diskusi ini hendak dibentuk dengan format yang formal, ada Moderator, mushoheh, dan musawirin. Namun hal itu kurang berjalan, diskusi pun mengalir. Dimulai dengan membaca materi yang ada dalam kitab Fathul Qorib oleh Miftahul, kemudian ditasheh oleh pentasheh selanjutnya dibahas bersama-sama dengan tanya-jawab yang merupakan pokok dari kegiatan ini.

“Kalau dulu yang dibaca matan terus dimurodi, sekarang sekaligus sarahnya dibaca.” ungkap pria kelahiran 1986 ini. Tema yang dibahas selama ini adalah tentang Fiqih. Referensi yang digunakan dalam diskusi ini antara lain Fathul QoribSahul MuadzabFiqih ManhajFathul Mungin, dan lain-lain dengan topik yang relevan.

Kegiatan ini biasanya dimulai pukul 20:30 hingga 00:00 WIM (Waktu Indonesia Muktisari). Pesertanya pun kondisional, antara 3 hingga 10 orang. Awalnya pesertanya terbatas, namun lambat laun orang luar yang tidak terdaftar ikut dalam diskusi terbuka ini.

Ittihadul Mu’alimin (30), Imam masjid Al-Istimror yang juga berperan sebagai pentasheh dalam diskusi ini mengatakan, yang lebih berperan aktif dari teman-teman kita sendiri. “Kegiatan ini sangat bagus, sangat positif. Minimal bisa menambah wawasan teman-teman di sekitar kita. Apalagi dalam membahas tidak menggunakan bahasa yang spaneng, dengan bahasa sederhana yang santai tapi bisa mengena.” tutupnya.[Samsul Ma’arif/2014]

Comments

comments