Mengenal Sosok Kyai Muda Pengasuh Masjid Al-Istimror

Muktisari, Gandrungmangu – Adalah Ittihadul Mu’alimin seorang kyai muda, putra kesembilan dari almarhum Kyai Najmudin dan bu Nyai Mauludiyah. Alumni Madrasah Ibtidaiyah Muktisari tahun 1989 ini mengaku tidak tahu mengapa beliau yang akhirnya didapuk sebagai pengasuh Masjid Jami’ Al-Istimror.

“Mungkin karena baru ditinggal Almarhum, sedangkan yang didapuk saya, entah bagaimana. Yang jelas, kepemimpinan orang sepuh dengan orang muda itu berbeda. Bagaimana almarhum menyikapi suatu hal, dan saya bagaimana,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya di Rt.07/Rw.02, Desa Muktisari, Kecamatan Gandrungmangu, Cilacap.

Pria kelahiran tahun 1983 ini merupakan alumni Pondok Pesantren Al-Iman, Bulus, Gebang, Purworejo tahun 1995-2001, asuhan KH Habib Hasan Bin Aqil Al Ba’abud kemudian beliau melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Nurul Haromain, Ngroto, Pujon, Malang, Jawa Timur mulai tahun 2002 hingga tahun 2013, asuhan KH M Ihya’ Ulumiddin. Kemudian tahun 2013 beliau kembali ke kampung halaman.

Kyai muda yang satu ini dikenal tak ketinggalan dengan teknologi terbaru. “Memang di Nurul Haromain itu pesantrennya tidak begitu monoton,” ungkapnya mulai bercerita pengalamannya di pondok. “Kebetulan pada saat itu saya kurang tau kenapa saya bisa seperti itu. Pada saat itu tahun 2009 pondok kedatangan tamu dari Malaysia. Tamu tersebut menawarkan ngaji online, streaming online. Seseorang membutuhkan narasumber dari salah satu website, kemudian bekerja sama dengan pondok. Dia memberikan jalan bagaimana caranya bisa streaming, alat dari sana. Kita diberi 1 kamera kalau tidak salah. Yang menyediakan website dari sana, kita tinggal mengoneksikan saja. Itu awalnya kami mengenal internet,” lanjutnya.

Mantan penyiar Radio Shoutul Haromain 105.5 FM Malang ini mengaku tertarik dengan internet karena beliau seorang pecinta nasyid. “Cara jawane mungkin ya Sholawat. Tahun 2009 kalau tidak salah. Bahkan mungkin 2007 sudah mulai utak-atik internet,” ungkapnya bersemangat.

“Kem‌udian di pondok tahun 2009 kalau tidak salah pasang. Dan memiliki insiatif untuk membuat grup facebook. Kemudian memiliki teman yang di Mekah minta dibuatkan grup. Pada saat itu mungkin belum bisa dikatakan grupnya resmi, karena belum ada ACC,” lanjutnya. “Karena keinginan sendiri dengan satu teman saya, terus dipandu dari Mekah sana dengan chatting, bagaimana caranya membuat grup. Terus dibuatlah grup pondok Nurul Haromain Pujon. Sampai saat ini Alhamdulillah, anggotanya telah mencapai 4600-an,” pungkasnya.

Menurut pria yang akrab disapa Gus Tihad ini, karena dirinya yang membuat grup tersebut otomatis dia menjadi admin. Gus Tihad termasukk aktif di media sosial pada saat itu. “Dan sekaligus saya kebagian memegang kamera, kebetulan pada saatitu kameranya baru satu. Itu sekitar tahun 2009-2010. Kalau sekarang sudah lebih canggih, bisa live streaming, di web sendiri maupun melalui youtube,” ungkapnya bernostalgia.

Saat di Pondok Pesantren Nurul Haromain

Terkait website pondok beliau sendiri didapuk menjadi admin. Kemudian berlanjut memegang radio Shoutul Haromain, radio komunitas, radio pondok kurang lebih sekitar 3 tahun. “Pokoke mulai manual, kemudian kebetulan juga ada orang yang memberitahu saya, melalui chatting juga bagaimana caranya supaya radio bisa streaming. Dia dengan sukarela memberikan akun, melalui aplikasi shoutcast di winamp,” ungkapnya.

Gus Tihad berpesan untuk Ta’mir dan warga Al-Istimror bahwa terkait dengan pengurusan rumah Alloh, lakukan segala sesuatunya karena Alloh. “Itu pesan saya,” tutupnya singkat.

Samsul Ma’arif/2017

Comments

comments