Mbah Sukemi Sebatang Kara

Muktisari, Gandrung – Seorang pria sedang beristirahat di dalam rumah yang tak laik lagi untuk disebut rumah. Pandangannya yang mulai kabur membuat tak banyak yang dapat ia lakukan. Adalah mbah Sukemi, pria berusia 77 tahun ini tetap bekerja dan berusaha untuk kehidupannya sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Mbah Sukemi adalah warga Dusun Bendagede, Rt.08/Rw.02, Desa Muktisari, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap.

Mbah Sukemi

Tanah seluas 37 ubin yang ia tinggali kini bukan miliknya lagi. Rumah yang dulu megah pun telah telah rata dengan tanah dan telah dijual pada pak Samsuri dari Cibuaya Wetan sejak beberapa tahun silam. Kini beliau tinggal di sebuah gubug seluas 6 x 4 meter di atas tanah tersebut. Dari luar, dinding-dinding rumahnya terbuat dari bilik bambu, sedangkan atapnya hanya terdiri dari beberapa bilah seng. Terbayang ketika hujan turun, suara bising dan bocor di mana-mana pun tak terhindarkan.

Gubugnya terbagi menjadi 2 ruangan. Dari depan, ruangan pertama nampak seperti ruang tamu, hanya ada satu tempat duduk di sana. Namun sebenarnya ruang ini adalah tempat untuk menyimpan peralatan rumahnya, termasuk beberapa sebuah jam dinding dan beberapa keranjang yang ia miliki. Sedangkan ruang kedua adalah tempat tidurnya yang menyatu dengan tungku pemasakan yang hanya terbuat dari tumpukan bata. Mungkin hanya bata ini adalah bagian dari rumahnya yang tersisa yang beliau miliki.

Tidak ada penutup maupun pembatas permanen di sumurnya yang berada di luar. Hanya ada dedaunan dan tanaman kecil yang menghalangi di sekeliling tempat pemandiannya tersebut.

“Umaeh tek bongkari, bata, watu, tanaeh ya anu wis didol. Aku nang kene anu mondok. Wis tek dol meng pak Samsuri wong Cibuaya Wetan.” ujar mbah Sukemi kepada  Tim Muktisari pada Selasa (18/2).

Dahulu mbah sukemi memiliki usaha telur bebek. Namun semua bebeknya telah dijual semuanya karena terhimpit masalah ekonomi. Kini tak ada bebek yang beliau pelihara karena tak mampu untuk membeli bebek.

Untuk menghidupi kehidupannya sendiri, kakek kelahiran tahun 1937 ini kini menanam bayam dan tanaman sayuran lain di tanah milik orang lain tersebut. Untuk selanjutnya dijual kepasaran pada pagi hari. Hasilnya beliau belanjakan untuk membeli beras seharga Rp 7.500,-. Satu liter beras dapat beliau konsumsi selama empat hari.

Meskipun beliau hidup sebatang kara, mbah Sukemi tak pernah bergantung pada orang lain. Tentunya ini menjadi inspirasi bagi kita kaum muda untuk jangan berputus asa. Bila kita memiliki rezeki, kita harus ingat bahwa sebagian dari rezeki kita ada hak mereka. [Samsul Ma’arif/2014]

Comments

comments