Mbah Lapis: Pemikul Kue Lapis Khas Muktisari

Muktisari, Gandrung – Kue lapis adalah makanan khas Indonesia. Biasanya terdiri dari dua warna yang berlapis-lapis, hal inilah yang memberi nama pada kue ini. Mbah Solikhun (76) dan istrinya Tunem (76) adalah pengrajin kue lapis dari Dusun Bendagede, Rt.08/Rw.02, Desa Muktisari, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap yang konsisten hingga masyarakat sekitar menjulukinya dengan “Mbah Lapis”.

Ilustrasi kue lapis.
Ilustrasi kue lapis. Image Source: http://id.wikipedia.org/wiki/Kue_lapis

Berjualan tiap hari pasaran, yaitu hari Senin dan Jum’at mbah Lapis pun memertahankan cara berjualan yang tradisional yaitu dengan membawa dagangannya dengan dipikul melintasi jalan raya sekitar 2 km hingga Pasar Gandrungmangu. Selain lapis sebagai jajanan utamanya, ada onde-onde, kweku, dan apem. Karena beliau membawa dagangannya dengan memikul, terkadang jualannya habis terjual di jalanan sebelum sampai ke pasar. Terkadang pula jualannya tak laku sama sekali di jalan hingga beliau menjualnya ke pasar.

Dalam sekali jalan, beliau hanya menjual lapis sebanyak 3 loyang, apem 2 loyang, dan onde-onde 50 buah, selebihnya kweku. Jika jualannya laku semua, mbah Lapis akan mendapatkan uang sekitar Rp 90.000,-.

“Siki bakul panganan wis akeh, lah kuwe anake Muji ya dodol panganan. Nek biyen agi urung ana transmigrasi, aku dodol 10 loyang ayawene ya wis enteng.” ujar mbah Solikhun pada Rabu (19/2). ‘Ayawene’ yang dimaksud adalah pagi menjelang siang.

“Urung ana eleran, mbiyen nganggo gemplong. Jaman wis berubah.” lanjut pria kelahiran 03 Juni 1937 ini.

Rumah Mbah Lapis nampak dari depan, Foto : Samsul Ma'arif
Rumah Mbah Lapis nampak dari depan, Foto : samsul ma’arif

Ayah 8 orang anak ini menceritakan, sesekali ada juga yang memesan lapis untuk acara hajatan maupun yang menyumbang untuk kondangan. Satu loyang lapis dihargai sebesar Rp 10.000,- Mbah lapis bersyukur masyarakat masih memercayai beliau berdua dalam hal pembuatan lapis.

Sejak tahun 1975, Mbah Solikhun berjualan kue lapis bersama istrinya. Berbekal kemampuan sang istri dalam pembuatan kue tersebut yang ternyata ilmu itu pun diturunkan dari orang tuanya.

Penasaran dengan sosok Mbah lapis dan kue lapis buatannya? Tunggu catatan kami selanjutnya. [Samsul Ma’arif/2014]

Comments

comments