Dari Jual Tanah hingga Jual Kambing

Mbah Tunem (kiri) dan Mbah Solikhun (kanan).
Mbah Tunem (kiri) dan Mbah Solikhun (kanan).

Muktisari, Gandrung – Mbah Solikhun (76) dan istrinya Tunem (76) adalah pengrajin kue lapis dari Dusun Bendagede, Rt.08/Rw.02, Desa Muktisari, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap yang konsisten hingga masyarakat sekitar menjulukinya dengan “Mbah Lapis”.

Ada hal yang mengejutkan dari kisah Mbah Lapis ini. Tak jauh berbeda dengan kisah Mbah Sukemi sebelumnya, ternyata tanah seluas sekitar 42 ubin yang ditinggali Mbah Lapis telah dibeli orang pada sekitar 2 tahun yang lalu. Harga tanah yang dijual pun terbilang murah untuk kategori tanah pinggir jalan, Rp 1,2 juta per ubinnya. Sedangkan seorang tetangga yang tak jauh dari tempat tinggalnya belakangan menjual dengan harga Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta per ubinnya.

Saat itu cucunya yang bernama Najib mendapat panggilan untuk menjadi ABRI di Ambon. “Karangan didol nggo magang ABRI nang putune.” ujar Mbah Tunem pada Kamis (20/2) kepada Tim Muktisari.

Namun nasib baik mungkin belum berpihak pada sang cucu. “Ya temenan, bocaeh digawa, ler, maring ambon. Nang Ambon, mbasa diuji, carane kuwe dites pikirane ndredeg, kaya kuwe. Trus ora dadi, dibalekna. Ya bali dewek.” ujar wanita kelahiran 7 Mei 1937 ini ketika ditemui di kediamannya.

Kabar baiknya lanjut nenek yang telah menggeluti komoditi kue sejak kecil ini, kini sang cucu telah bekerja di Wonogiri, menjadi sales bumbu masak. Penghasilannya pun cukup menjanjikan.

Salah satu sudut rumah Mbah Lapis.
Salah satu sudut rumah Mbah Lapis.

Selain membuat kue, Mbah Lapis memelihara kambing. Namun kambing-kambingnya juga telah dijual. Setahun yang lalu, Mbah Solikhun sakit selama 3 hari yang membuat beliau tidak dapat merumput. Akibatnya 2 ekor dari sekitar 5 ekor kambingnya mati. Akhirnya sisa kambingnya dijual. Karena tidak ada yang membantu beliau, sedangkan cucu beliau yang biasa membantu telah merantau ke Kalimantan.

“Telung dina ora ngarit, weduse mati loro. Sing gelem ngrewangi lunga, Amin meng Kalimantan, putuku. Kae saben dina ya mengeneh.” ungkap kakek pemikul lapis ini belum lama ini.

Rumah yang ditinggali beliau berdua pun nampak memprihatinkan. Rayap-rayap yang tak kenal kompromi pun membuat dinding rumahnya yang kebanyakan terbuat dari bilik bambu bolong-bolong. Ini merupakan salah satu potret kehidupan masyarakat kita. Lalu, apakah kita sudah merdeka? [Samsul Ma’arif/2014]

Comments

comments