Mang Kamo, “Pegawai Tingkat Tinggi” dari Muktisari

Muktisari, Gandrung – Pernahkah Anda memasak? Apa saja bumbu yang Anda perlukan untuk memasak? Salah satunya mungkin gula, Gula Jawa atau terkadang disebut juga gula merah adalah gula yang terbuat dari legen. Legen di sini adalah sadapan manggar, yaitu bunga dari pohon kelapa. Bisa jadi gula merah yang ada di dapur Anda adalah buatan Mang Kamo.
Mang Kamo (54) adalah salah seorang pegawai tingkat tinggi alias pemanjat pohon kelapa dari Desa Muktisari, Rt.08/Rw.02, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap. Bersama dengan istrinya Walijah (52) sehari-hari Mang Kamo mengolah cairan legen menjadi gula merah guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Sehari-hari pria kelahiran 1 Feburuari 1960 ini memanjat pohon kelapa pada pagi dan sore hari. Dari 19 pohon yang beliau sadap, hanya 2 di antaranya yang milik sendiri. Sisanya adalah milik tetangganya yang beliau sewa dengan harga 1 kg gula merah per pohon per bulan. Namun pembayaran sewa pohon bisa juga berupa uang, tergantung permintaan pemilik pohon. Jika air sadapan sedikit, terkadang Mang Kamo justru merugi karena sewa harus tetap dibayarkan dengan nilai yang sama.
Dalam sehari, Mang Kamo dapat menghasilkan antara 6 – 8 kg cetakan gula merah. Harga 1 kg gula merah kini sedang murah, kisaran Rp 6.500,- tak sebanding dengan harga beras yang kini melambung hingga Rp 7.500,- per kilogamnya. “Ya rugi, ora ulih beras sekilo. Larang berase karo gulane.” ungkap pria ya telah ndèrès sejak tahun 2000 ini pada Sabtu (22/2).
Ayah dari 4 orang anak ini menjual gulanya pada bos gula (baca: tengkulak) di sekitar pasar Gandrungmangu. Sesekali juga Mang Kamo menjual gulanya ke warung-warung terdekat, karena warung biasanya berani membayar lebih tinggi dari tengkulak. Namun hal itu tidak dapat dilakukan terlalu sering, karena warung pun tidak dapat menjual banyak.
Kendala yang dihadapi antara lain adalah dalam penyadapan harus menggunakan obat. Satu kemasan Sodium Metabisulphite ukuran 250 gram seharga Rp 2.000,- dapat digunakan untuk 2 hari. Kalau di warung harganya bisa mencapai Rp 2.500,-. Terkadang ada juga obat yang palsu yang mengakibatkan hasilnya tak maksimal. Kayu untuk bahan bakar pun harus beli yang harga per kubiknya mencapai Rp 100.000,-, cukup mahal untuk ukuran penyadap legen seperti Mang Kamo ini.
Rumah yang berdiri di atas tanah yang dimilikinya seluas 15 ubin kalau hujan agak deras terkadang kemasukan air. “Angger anu udan terus munggah, tekan kana diusungaken lungka kan lentong. Dalan banyune dipepet nang wong lentong (Dusun Lentongrejo -red)…” kata Ibu Walijah saat ditemui di rumahnya pada hari yang sama. Tanah tersebut memang berbatasan langsung dengan Dusun Lentongrejo. Sedangkan selokan (sungai kecil) yang berada sebelah timur rumahnya seharusnya mengalir ke arah utara terhambat karena tersumbat lungka.
Sebagai gambaran, rumah mang Kamo memang berada di dalam. Untuk menuju rumahnya, kita harus melewati gang sepanjang + 200 meter yang sudah nampak becek karena hujan. Gang tersebut memang belum dibeton, baru berupa kerikil-kerikil dan bebatuan yang masih campur dengan tanah.
Bu Walijah berharap mendapat bantuan dari pemerintah setempat, agar rumahnya dapat diperbaiki. Ketika terjadi gempa belum lama ini, rumahnya sempat doyong ke arah timur. “Umaeh wis ra petha, wis tepo umaeh… dibenerna gendenge ambruk kabeh,…. ora wani beneri gendeng, wedi mbok ambrol kabeh….” ungkap wanita kelahiran 02 Januari 1962 ini. Mang Kamo pun berharap harga gula naik agar dapat mencukupi kebutuhan rumah tangganya. [Samsul Ma’arif/2014]

