Jurnalisme Modal Nekat

Muktisari, Gandrung – Dengan bermodalkan nekat aku mulai merangkaikan kata-kata, menuliskan kisah yang belum pernah dituliskan. Berbekal ilmu yang kudapatkan ketika mengikuti Pelatihan Media Online untuk Warga yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Purwokerto pada hari Sabtu-Minggu, 15-16 Februari 2014 di Hotel Horison Ultima Purwokerto, aku mencoba menulis. Semasa SMA aku pernah bermimpi untuk menjadi seorang wartawan, namun mimpi itu telah nyaris sirna sejak bertahun-tahun silam. Namun kini, mimpi itu justru seolah terasa telah terwujud.
Meskipun aku sendiri menyadari, beberapa kendala yang kuhadapi buatku sendiri ini tidaklah mudah. Aku memiliki masalah sosial yang tak mesti ada pada setiap orang. Manusia mungkin makhluk sosial, namun aku sendiri tak terlalu sosial. Aku selalu menyendiri, mengurung diriku sendiri dari lingkungan sekitarku. Aku bahkan tak mengenali beberapa tetanggaku, aku tak tahu apa saja yang mereka lakukan, siapa saudara-saudara mereka. Sedikit banyak tentu saja ini akan sangat berpengaruh dengan apa yang akan kutuliskan. Tak banyak kata-kata yang dapat kugunakan untuk membuat catatanku menjadi indah, mendayu-dayu.
Di samping itu, kemampuan pikiranku yang terbatas seringkali membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memikirkan, menyusun sebuah kalimat yang enak untuk dibaca. Setidaknya itu yang kurasahakan hingga kini. Termasuk kemampuan pikiranku yang cukup sulit untuk mengingat sesuatu dalam waktu tertentu. Bahkan terkadang aku lupa apa yang baru saja kudengarkan, atau kutuliskan. Ah, ini bukan bermaksud untuk membuka aibku sendiri. Bukan pula untuk bergalau ria atau sambat-sambat. Aku sendiri berharap dengan menuliskannya sedemikian, suatu saat aku akan dapat menemukan solusinya. Bukankah itu yang diharapkan setiap penulis? Dengan menuliskan masalahnya, akan dapat menuemukan solusinya. Meskipun solusi itu tak mesti datang dengan seketika.
Proses Kreatif
Itu adalah sebuah istilah yang kutemukan sejak SMA, ketika aku membaca majalah sastra Horison —kebetulan saja namanya sama dengan nama hotel yang kemarin ketempatan pelatihan—. Entahlah, apakah majalah itu kini masih terbit atau tidak. Pernah baca kabar juga kalau majalah itu dihentikan penerbitannya. Sayang sekali jika berita itu ternyata benar. Ah, yang pasti “Proses Kreatif” adalah suatu cara, proses bagaimana seseorang membuat sebuah karya kreatif. Tentu saja karena yang kubaca dalah majalah sastra, yang dibahas adalah proses kreatif dalam hal tulis menulis. Sejauh ini, aku hanya dapat menjadi penikmat sastra. Dan tentu saja, aku suka membaca sastra.
Kaitannya dengan Jurnalisme Warga ini, karena kendala-kendala yang telah kusebutkan di awal aku hanya mengandalkan peralatan yang telah aku punya. Sebuah ponsel jadul, Sony Ericsson K618i sebagai recorder cukup membantu untuk merekam percakapan yang tentu saja dapat digunakan sebagai bukti yang sah jika di kemudian hari terdapat sebuah permasalahan —na’udubillah min dzalik—. Untuk sesaat, recorder ini dapat membantu menangani permasalah memori otakku. Selain sebagai recorder, ponsel tersebut juga dapat kugunakan sebagai kamera. Resolusi 2MP kamera ponsel tersebut sejauh ini cukup untuk mendokumentasikan kegiatan, tempat, dan orang yang kuwawancarai.
Satu lagi senjata yang kugunakan adalah Notebook Acer Aspire One 722 milikku dan sebuah modem milik seorang teman yang telah mengizinkan saya menggunakannya hingga kini. Dengan sistem operasi kesayanganku yang bersifat Open Source tentunya sangat membantuku untuk menulis dan mengunggahnya ke jagat internet tanpa merasa khawatir terjangkit virus. Meski hingga kini notebook ini belum lunas, setidaknya aku masih dapat memanfaatkannya secara maksimal.
Nah, pada tahap penulisan aku menuliskannya terlebih dahulu secara luring. Sebuah software DokuWiki terlah terinstall di web serverku. Biasanya, sambil aku mendengarkan rekaman percakapan/wawancara sebelumnya aku menuliskan kata-kata atau poin-poin penting sesuai tema yang akan kutuliskan nantinya. Namun tak jarang pula, aku menuliskan lebih luas dari sekedar tema yang akan kutulis. Meskipun pada akhirnya poin-poin itu tetap tak kumasukkan dalam berita.
Selanjutnya adalah proses pengeditan. Terkadang aku membuang beberapa kalimat yang sudah kutuliskan yang kuanggap kurang relevan baik secara tema maupun secara struktur kalimatnya. Atau menambahkan beberapa kata atau kalimat, tentu agar tulisan sesuai dengan apa yang kuinginkan.
Setidaknya demikianlah, sebuah proses bagaimana aku menuliskan sebuah berita/cerita. Lalu, bagaimana proses kreatif teman-teman? Buat teman-teman yang mungkin memiliki cengkir alias kencenging pikir tentu prosesnya akan lebih sederhana. Bahkan mungkin tak memerlukan sebuah rekorder atau semacamnya, karena apapun yang diucapkan orang akan mudah diingat dan diungkapkan kembali baik dalam bentuk tulisan maupun lisan. Namun apapun itu, kita harus mengenali batas pikiran kita. Agar kita dapat menemukan solusi akan permasalahan kita.
Tak lupa aku mengucapkan terima kasih pada kakak-kakak AJI (Persiapan) Kota Purwokerto yang telah membimbing selama pelatihan, memberikan pengarahan serta motivasi yang sangat bermakna, utamanya buat saya sendiri. Terima kasih pula buat Relawan Desa Cilacap, tepatnya dari Sidamulya, Sidareja yaitu @masfadlie yang justru mendelegasikan saya untuk mengikuti pelatihan. Selebihnya, aku berharap aku bisa konsisten. Ini yang paling sulit dari semua proses ini. Dan akhirnya aku memang harus Nekat. [Samsul Ma’arif/2014]


Mantap… Semoga tetep semangat
Makasih mas,
-Samsul Ma’arif-
Selalu ada kejutan dari Mas Samsul. Setelah tergoda cerita Mbah Lapis, kini saya terpikat curhatnya Mas Samsul yg semoga bisa menjadi inspirasi bagi kita semua..
Terima Kasih pak, doakan saya supaya bisa konsisten. 😛
-Samsul Ma’arif-
Salut dengan semangatnya mas, teruslah menulis ya…bisa berenang hanya akan tercapai dengan nyebur kolam, seperti halnya menulis.
Terima kasih pak, tapi eh saya gak bisa berenang pak….. 🙁
-Samsul Ma’arif-
Wo keren kang. aku juga pengin jadi pewarta biar bisa senantiasa berbagi.
Aku juga masih harus banyak belajar dari temen-temen Blogger Cilacap nih kang…
-Samsul Ma’arif-
Mantap mas samsul. Teruslah menulis fakta2 disekitar kita. Selain sebgai alat perubahan jg sbg Sebagai fakta etnografis yg bisa menjd warisan anak cucu kita kelak.
Terima kasih mas, semoga saya bisa konsisten….
-Samsul Ma’arif-
Sosial, hal yang kelihatannya “simple” tapi hakikatnya rumit, sangat berbelit-belit. Namun, sosial adalah hal menarik yang selalu berganti-ganti topik, fenomenanya selalu berubah. Dan sosial adalah tolak ukur bagaimana kita memahami kehidupan.
Semangat terus, semoga web ini memberi banyak kontribusi positif, bagi penulis dan semua yang ada di dalamnya.
Matur suwun kang Misbah, dukungan temen-temen tentu saja akan sangat bermakna bagi kami, khususnya saya sendiri..
-Samsul Ma’arif-
haha ramaku melu koh