Bata Merah, Buah Karya Warga Muktisari

Mudakir mengangkut bata untuk dibakar (obong).

Muktisari, Gandrungmangu – Adalah Mudakir (40) sosok pengusaha batu bata dari Desa Muktisari Rt.6/Rw.2, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap, ia telah menekuni usaha ini selama setahun lebih dan juga telah memiliki 3 karyawan, walaupun belum menjadi karyawan tetap.

Setiap 2 bulan sekali hampir dipastikan ia membakar batu bata. Bahan batu bata diambilkan dari tanah pegunungan Rungkang Karanggintung dengan harga Rp 250.000.00 per- truk dan pasir yang diambil dari Cilacap dengan harga Rp 550.000.00 Per-truk.

Satu truk tanah bisa menghasilkan hingga 4000 bata. Untuk takaran pembuatan 3 takaran tanah dicampur dengan 1 takaran pasir, sedangkan sekam secukupnya hanya sebagai penguat.

Saat mengaduk tanah dengan manual dalam sehari hanya mampu mencetak 1500 bata, namun seiring perkembangan zaman saat ini untuk proses pengadukan tanah telah menggunakan mesin dan dalam sehari mampu mencetak 2000 bata namun jika dikerjakan sehari full mampu mencetak hingga 10000 bata.

Untuk harga perbiji Rp 600.00 sudah sampai tempat; dan jangkauan pemasaran mulai dari tetangga yang berjarak 200-300 m hingga Desa Layansari. Untuk sekali obong (pembakaran ) bata berjumlah 7000 – 10000 buah memakan waktu selama 2 hari dan menghabiskan bahan bakar kayu 3-5 kubik dan merang (sekam) 20 – 25 kandi polet.

Mudakir mengungkapkan bahwa kendala yang dalaminya ialah faktor hujan dan keterlambatan pengiriman bahan material. Kekurangan lahan untuk mencetak batu bata juga menjadi kendala tersendiri. “Kami berharap semoga masyarakat lebih percaya terhadap produk lokal untuk menunjang perekonomian masyarakat, sehingga usaha di desa bisa berkembang pesat,” pungkas Kepala Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif NU 01 Muktisari ini.

Ittihadul Mu’alimin

Comments

comments